• Light/Darkz
  • Search in progress . . .
  • Light/Dark
  • Esu, Cikal Bakal Yuri yang Jarang Kita Ketahui

    Diposting oleh Bang Jago , Rilis 3 weeks ago

    Tulisan ini bermula dari sebuah obrolan dengan teman daring saya di Facebook. Saya berkomentar di post Facebooknya tentang anime yang sedang tayang, Assault Lily Bouquet. Saya bercerita kalau anime ini memiliki kadar esu yang cukup kuat. Anehnya dia malah bertanya balik kepada saya apa itu esu, sehingga saya harus menjelaskan padanya. Setelah beberapa balasan dengannya dan juga dari teman lain, saya pun mendapatkan kesimpulan. Rupanya, esu yang saya ketahui sebagai cikal bakal yuri saja tidak banyak diketahui oleh para penggemar yuri itu sendiri (setidaknya yang saya temui di dalam negeri)Malah ada pula yang tak mengindahkan adanya plot esu yang sebenarnya telah bertahan selama seratus tahun ini—ya, seratus!—karena dianggap “ngelesbi kok setengah-setengah”. Karena itulah saya ingin menjelaskan sedikit apa itu esu yang sering ditahbiskan sebagai onee-sama bagi yuri kontemporer.

    Esu: Shoujo x Shoujo

    Esu atau beberapa sumber lain menyebutnya sebagai s kankei (Shamoon, 2008) secara harfiah terdiri dari “s” yang merupakan inisial kata sister atau “saudari” dalam Bahasa Inggris yang dipadukan dengan kata kankei yang berarti “hubungan”. Namun, hubungan persaudarian ini tidaklah kaku sebagai hubungan antara kakak dan adik kandung, namun merupakan hubungan intim platonik antarperempuan dalam sebuah lingkungan sekolah keputrian yang homososial dan jauh dari lawan jenis seumuran. Hubungan ini bukanlah sesuatu yang jarang ditemukan di era Meiji dan Taisho yang menjadi “era keemasan” esu. Hal ini dikarenakan banyak didirikannya sekolah keputrian di masa tersebut untuk melatih para shoujo (gadis) sebagai ryousai kenbo atau “istri yang baik, ibu yang bijak”, serta bagian dari misionaris Katolik di Jepang (Shamoon, 2012).

    Dalam prakteknya, esu menempatkan dua perempuan dalam satu hubungan yang bak kakak-beradik atau persahabatan ini. Pada umumnya, esu memasangkan seorang senior dengan juniornya. Sang senior berperan sebagai pihak penjaga yang lebih dominan dan mengemban peran sebagai onee-sama (sang kakak), sementara juniornya menjadi sebagai imouto-nya (sang adik) yang harus dijaga (Shamoon, 2012; Maser, 2013). Dalam prakteknya, hanya onee-sama yang boleh memilih imouto-nya dan sulit untuk sebaliknya. Satu onee-sama hanya boleh memiliki satu imouto, begitu pula sebaliknya. Hubungan ini akan berakhir saat onee-sama telah lulus dari sekolah dan kemudian menjadi istri laki-laki yang dipilih oleh orang tua mereka (Shamoon, 2008). Imouto pun terbebas dari esu, namun dapat menjadi onee-sama di kesempatan lain. Selain itu hubungan ini terciri dari keidentikan antarpasangan, entah dari baju hingga potongan rambut.   

    Perlu dicatat bahwa esu jauh dari narasi lesbian yang berkembang di abad 21 (Shamoon, 2008). Hal ini dikarenakan esensi dari esu sendiri adalah membiasakan para gadis dengan hubungan spiritual (ren’ai) sehingga mereka tidak kaget saat kelak menjadi istri. Tujuan dari praktek esu sendiri adalah untuk mengembangkan nilai aestetis dominan dari budaya gadis: kesucian, keindahan, kemurnian, hingga keperawanan (Shamoon, 2012). Uniknya, tujuan tersebutlah yang kemudian membuat esu sangatlah didukung oleh para orang tua pada masanya. Terlebih lagi, hubungan ini cenderung dipandang sebagai hubungan platonik yang “tidak mengancam” masyarakat heteroseksual (Shamoon, 2012; Maser, 2013). Fakta-fakta tersebutlah yang kemudian membuat beberapa akademisi menyatakan bahwa tidak pantas untuk semena-mena mengategorikan esu sebagai praktek lesbian kontemporer tanpa mengetahui dengan jelas budaya yang berkembang di zaman tersebut (Shamoon, 2008). Meski begitu, dalam prakteknya hubungan ini sangatlah intim dan bahkan kadang sangatlah membara (Pfugfelder, 2005 dalam Maser, 2013).

    Demi mengampanyekan wacana esu serta mendidik para gadis agar dapat menjadi ryousai kenbo, diterbitkanlah majalah-majalah serta novel yang sengaja menyasar para gadis dan identik dengan bunga lily putih—yang juga identik dengan lambang sekolah misionaris. Majalah serta novel yang ditujukan para gadis inilah yang kemudian menjadi salah satu pilar di balik berdirinya shoujo bunka atau budaya shoujo di dekade 1910-1937 selain pentas Takarazuka Revue. Konten majalah shoujo bermacam-macam. Dari artikel pendidikan, esai, sesi tanya-jawab dengan redaksi, hingga konten yang paling digemari oleh para gadis: novel bersambung dan cerita pendek yang menggunakan trope (pakem cerita) esu. Saking digandrunginya, novel dan cerpen bahkan sering menjadi saluran bahan pembelajaran para gadis untuk mempraktekkannya selain digunakan untuk sebagai media hiburan. Novel-novel shoujo (shoujo shousetsu) inilah yang kelak menjadi onee-sama dari yuri kontemporer yang kita kenal saat ini karena kemiripan trope yang mereka miliki.

    Dari berbagai macam novel shoujo yang beredar di zaman tersebut, ada dua judul yang sangat populer sehingga dicap sebagai pendiri genre ini. Pertama adalah Otome no Minato. Novel yang dikarang oleh Kawabata Yasunari dan Nakazato Tsuneko (sebagai ghost writer-nya) menggambarkan bagaimana praktek esu dijalankan. Misalnya, latar cerita ditempatkan dalam lingkungan homososial gadis sehingga karakter laki-laki hampir selalu absen. Dalam Otome no Minato pula, dijelaskan soal onee-sama yang diharuskan hanya memiliki satu imouto. Sehingga bila ada dua gadis yang dapat menjadi kandidat imouto, sang onee-sama harus memilih satu di antaranya dan sebaliknya. Esu juga diperlakukan sebagai hubungan yang spesial dan layaknya kisah romansa pada umumnya. Dalam novel ini, cinta segitiga tersebutlah yang menjadi sumber konflik utama ceritanya.

    Selain Otome no Minato, Hana Monogatari yang dikarang oleh Yoshiya Nobuko juga menjadi karya yang paling populer dan dikaji untuk memahami esu dan “didapuk” menjadi pionir dari yuri dan esu (Maser, 2013)Yoshiya Nobuko sendiri mulai terkenal dengan ceritanya, “Suzuran”, di Majalah Shoujo Gahou. Dalam Hana monogatari, terdapat 52 cerita yang dikarang Yoshiya Nobuko dalam waktu yang sangat lama dari remaja hingga dewasa. Keseluruhan cerita memiliki karakter utama perempuan, sering berlatarkan sekolah keputrian, serta dikonstruksikan sebagai esu. Salah satu corak terpenting dari karya Yoshiya Nobuko adalah hubungan intim antarperempuan yang digambarkan dengan cantik, manis, kental akan ren’ai, penuh dengan narasi serta monolog emosi karakter, pembagian peran dominan serta submisif, dan alur cerita yang sangatlah melankolis dan melodrama (Maser, 2013). Gaya penulisan serta narasi yang dibawa Yoshiya Nobuko inilah yang kemudian dibudidayakan dalam yuri dewasa ini. Untuk beberapa tulisannya, Yoshiya Nobuko kadang tampil lebih “galak”. Wasurenagusa misalnya, cerita ini dibumbui soal empowerment perempuan dalam hubungan esu. Sementara, Yaneura no ni Shoujo menceritakan hubungan seksual antarperempuan secara eksplisit namun tetap dengan bahasa yang indah yang menjadi ciri khasnya (Shamoon, 2012).

    Esu dan Yuri Kontemporer

    Setelah tenggalam cukup lama saat perang dan pascaperang, hubungan antarperempuan dalam karya fiksi baru muncul lagi di 1970-an bersamaan dengan meledaknya genre shoujo dan ditandai dengan munculnya Shiroi Heya no Futari karya Ryoko Yamagishi. Hanya saja, kali ini hubungan esu mereka haruslah disembunyikan dan menjadi penanda bahwa adanya perubahan dalam masyarakat memandang hubungan antarperempuan (Maser, 2013). Barulah di dekade 1990-an, yuri secara sah lahir sebagai genre dengan membudidayakan esu.

    Sistem esu dalam yuri kontemporer salah satunya adalah Maria-sama ga Mitteru (1997) yang kental akan esu-nya (dengan sistem sœur) (Maser, 2013). Selain itu, di tahun 2020 ini, sistem esu juga diaplikasikan dalam anime Assault Lily: Bouquet dengan sistem Schutzengel-nya—lagi-lagi dengan kata yang diawali huruf “s”Hanya saja sistem Schutzengel ini tidak berhenti sebatas romansa saja, namun juga menggabungkan dengan trope “keselamatan dunia ada di tangan para gadis” (Sugawa-Shimada, 2019). Tujuan akademi para gadis dalam anime ini pun bukanlah untuk mencetak ryousei kenbo, namun untuk melawan monster. Uniknya, keduanya memberikan citra bahwa perempuan haruslah “disekolahkan” demi menjaga keselamatan bangsa bahkan dunia (Shamoon, 2012). Judul-judul episode dalam anime ini juga menggunakan nama bunga yang memiliki asosiasi dengan Hana monogatari seperti “Suzuran” (Lily of the Valley) (Episode 2) dan “Wasurenagusa” (Forget-me-not) (Episode 1).

    Perkembangan zamanlah yang membuat yuri kemudian menjauh dari onee-sama-nya. Misalnya masuknya wacana dan narasi lesbian anti-patriarki abad 21 dalam cerita. Karakter pun kerap digambarkan sebagai lesbian secara utuh dan tidak hanya sebatas “belajar mencintai” saja. Penggambaran hubungan seksual pun kerap kali disajikan secara eksplisit sehingga mementahkan narasi hubungan platonik dalam esuYuri saat ini juga menjadi sebuah genre yang juga dapat dinikmati demografis laki-laki sehingga dapat memberikan celah bagi male gaze untuk masuk. Kadang yuri hanya diperalat sebagai bumbu untuk menarik audiens laki-laki dengan iming-iming objektifikasi terhadap dua perempuan sekaligus. Meski begitu, pada umumnya esensi yuri dan esu (terutama yang melodramatis) tetaplah sama: melindungi dunia tertutup para gadis yang rapuh, namun indah dan semurni konotasi bunga lily putih dalam bahasa bunga.

    Berita Lainnya